top of page

Sepuluh Metode Interaktif di Kelas Daring

Updated: Oct 8, 2021

Memfasilitasi itu mudah! Lebih mudah ketimbang membuat slide panjang dan menceramahi dan menjejali peserta dengan berbagai informasi yang belum tentu relevan dengan mereka.




Flipcharting. Menggunakan papan flipchart adalah salah satu keterampilan dasar memfasilitasi. Papan flipchart dipakai untuk menuliskan gagasan-gagasan peserta. Tulis dalam bentuk pointers secara ringkas, jelas, dapat dibaca. Flipchart juga dipakai untuk memberi instruksi, membuat diagram konsep, melakukan pemetaan, menyusun agenda, dsb.


Brainstorming/Curah Pendapat: Ini sering digunakan dalam kelompok besar atau pleno. Beri pertanyaan sederhana dan minta peserta membuat pendapat Semua gagasan dikumpulkan dari seluruh peserta dan dari berbagai arah. Ini memungkinkan semua pemikiran dan saran disuarakan.


Kartu gagasan: Cara curah pendapat juga tapi menggunakan media kartu. Beri pertanyaan sederhana, minta semua peserta menuliskan jawabannya dalam kartu-kartu bisa berwarna warni untuk setiap pertanyaan yang berbeda. Posting kartu-kartu di dinding/papan daring, kelompokkan sesuai kategori.


Diskusi Berpasangan. Model diskusi kelompok tapi hanya berdua-berdua. Biasa disebut Diskusi Lebah karena suara diskusi yang keras dan banyak berdengung seperti lebah. Diskusi lebah memungkinkan orang-orang yang diam dalam kelas untuk mau berdiskusi dengan rekannya karena hanya berdua. Ini seperti ngobrol antar kawan. Setelah diskusi minta mereka menyampaikan hasil diskusinya. Bisa juga dipadukan dengan kartu gagasan. Dalam kelas daring peserta bisa melakukan diskusi lebah lewat chat


Diskusi Kelompok. Diskusi kelompok adalah metode paling umum untuk menggali suatu masalah secara mendalam. Pengelompokan bisa berdasarkan tema, kedekatan, atau mereka dapat memilih anggota kelompok sendiri. Metode ini dapat dipadukan dengan flipcharting dan kartu gagasan. Hasil diskusi bisa dituliskan di kertas flipchart atau di kartu gagasan. Dalam diskusi ini 2-7 pertanyaan dapat diajukan dan dibahas secara mendalam. Perhatikan jumlah kelompok. Idealnya 5-7 orang dalam kelompok. Lebih atau kurang dari itu akan mempengaruhi dinamika kelompok.


Praktik/Simulasi/Demonstrasi. Metode untuk meningkatkan pemahaman yang berbasis pengalaman. Dengan cara simulasi atau melakukan prosesnya maka peserta menjadi lebih paham karena pernah melakukannya. Akan sangat cocok untuk model pelatihan yang berbasis keterampilan.


Bermain Peran: melibatkan peran-peran tertentu untuk dipertunjukkan yang menggambarkan suatu masalah yang dihadapi. Ini dapat membantu peserta memahami bagaimana perasaan orang lain atau bagaimana tindakan mempengaruhi orang secara berbeda.


Lingkar Bercerita: Fasilitator mengidentifikasi tema umum di mana setiap peserta menceritakan sebuah kisah yang telah dialami secara pribadi. Dalam kelompok kecil, setiap peserta memiliki kesempatan untuk berbagi cerita dalam waktu tidak lebih dari tiga menit. Tidak ada pertanyaan yang diajukan sampai semua cerita selesai. Kerahasiaan adalah sarana untuk berpartisipasi dalam grup. Metode ini sering kali mengikat kelompok secara emosional. Padukan dengan diskusi kelompok (break-out) dan gunakan papan kolaborasi jika perlu.


Ceramah. Metode yang paling banyak digunakan dalam pelatihan, bersifat satu arah dan membutuhkan peran narasumber. Ceramah biasanya dipakai di kelas di sekolah, dan menempatkan guru sebagai sumber informasi. Untuk membuatnya lebih interakti dan partisipatif dapat dipadukan dengan brainstorming terlebih dahulu, atau dengan kuis, setelah itu baru ceramah dilakukan.


Continuum. Metode yang digunakan untuk mengetahui pendapat peserta apakah mereka setuju atau tidak setuju atau netral. Beri beberapa pertanyaan sederhana dan minta mereka menempatkan posisi mereka berdasarkan apa yang mereka yakini. Buat rating dengan poling dan bahas satu demi satu hasil dari poling continum.


Bagaimana? Seru, kan? Dan masih banyak lagi yang bisa dikembangkan.

Σχόλια


bottom of page