top of page

Tujuh Prinsip Kunci Pembelajaran Daring

Updated: Oct 8, 2021


Secara prinsip, apa yang membedakan antara pembelajaran daring dengan pembelajaran tatap muka? Tidak banyak sebenarnya. Bagaimana pun pendekatan yang digunakan sama-sama pendekatan belajar orang dewasa (andragogy). Ini adalah prinsip kunci yang harus diterapkan lebih dahulu.





1. Disain Pembelajaran yang utama, teknologi mengikuti

(Learning first, technology follows)


Bagi saya, ini yang pertama. Dalam semua tujuan dan proses pendidikan, maka pendekatan dan disain pembelajaran adalah penunjuk jalannya. Kita bisa memilih, menggunakan, dan mengambil manfaat dari teknologi, tetapi harap diingat bahwa itu adalah sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tujuan akhir dari pembelajaran adalah terjadinya proses pembelajaran dan kinerja perubahan peserta dan bukan penggunaan teknologi yang canggih dan mahal. Walaupun tentu saja, mengetahui teknologi apa yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran daring yang efektif juga sangat penting. Teknologi tidak dapat menggantikan pedagogy, selain untuk menambah nilai dan mendukung prosesnya.



2. Menggunakan Metode dan Perangkat interaktif


"Berbagai jenis materi ajar bisa membantu proses pembelajaran tetapi tidak semuanya dapat dianggap interaktif."

Interaksi dan dialog adalah salah satu kunci untuk memastikan partisipasi. Harap diingat bahwa proses pembelajaran (partisipatif) mensyaratkan pertukaran informasi dua arah atau multi-arah yang memungkinkan adanya umpan balik. Proses ini tidak tersedia ketika peserta belajar hanya dari sumber yang pasif saja.


Berbagai jenis materi ajar bisa membantu proses pembelajaran tetapi tidak semuanya dapat dianggap interaktif. Misalnya, penyediaan bacaan yang diposting atau dibagikan di internet, tidak bisa dianggap sebagai pembelajaran partisipatif, karena tidak memberikan kesempatan untuk bertanya, berdialog dan berdiskusi, kecuali disediakan waktu, forum, atau fitur untuk itu. Interaksi peserta dengan fasilitator atau narasumber dan peserta dengan sesama peserta merupakan faktor kunci untuk mempertahankan perhatian semua orang yang terlibat dan mengembangkan proses pembelajaran menjadi lebih dinamis.



3. Berpusat pada Peserta (participant-centered)


Banyak pembelajaran tidak relevan karena perancangnya tidak mau repot-repot melakukan asesmen dan menanyakan masalah apa yang hendak dipecahkan oleh peserta. Apa isu-isu yang saat ini tengah mereka geluti dan perjuangkan? Apa yang menjadi tantangan mereka? Akibatnya muatan pembelajaran kemudian hanya mendisplay konten informasi sebanyak-banyaknya dan berasumsi peserta akan memahami dan mengambil apa yang mereka butuhkan.


Jika kita mengharapkan pembelajaran daring yang kita rancang itu relevan dan berpusat pada peserta, maka konten pembelajaran harus ditargetkan dengan benar agar mampu berfungsi. Satu-satunya cara untuk mencapainya adalah dengan mengetahui tentang siapa peserta anda, apa masalah mereka, apa kebutuhan belajar mereka, dan apa keterbatasan mereka. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Bahkan dalam diri seorang peserta pun bisa memiliki kebutuhan yang berbeda antara kebutuhan pribadinya dengan kebutuhan organisasinya. Mempertemukan berbagai perbedaan kebutuhan tesebut merupakan tugas yang harus dilakukan oleh semua perancang dan pelaku pendidikan.


4. Kesederhanaan dalam Struktur, Isi, dan Media


"Sangat mudah bagi pendidik daring untuk jatuh dalam perangkap menggunakan media canggih tanpa manfaat belajar yang jelas."

Menyederhanakan konten bukan perkara mudah. Semakin harus menyederhanakan konsep untuk bisa dipahami, maka semakin sulit tugas tersebut dilakukan. Dalam pembelajaran daring, perhatian besar perlu diberikan untuk menyederhanakan struktur, isi atau konten, dan media yang digunakan agar pembelajaran menjadi efektif. Ketiganya harus dibuat atau dipilih karena fungsinya untuk membantu pemahaman dan ingatan, dan bukan semata-mata karena mengesankan.


Sangat mudah bagi pendidik daring untuk jatuh dalam perangkap menggunakan media canggih tanpa manfaat belajar yang jelas. Proyek semacam ini hanya akan menggembungkan media; menghabiskan lebih banyak waktu dan biaya, sementara sesuatu yang lebih murah dan sederhana bisa jadi mampu bekerja dengan lebih baik dan efektif.



5. Kolaborasi dan pembelajaran Kolektif


"Dialog akan merangsang proses penalaran, berbagi pengetahuan, dan mendorong pemecahan masalah. Ini membantu peserta menjadi lebih sadar akan pemikiran dan penalaran mereka sendiri dan membantu mereka untuk menyelidiki pemikiran dan penalaran orang lain."

Salah satu prinsip yang dikedepankan dalam pembelajaran daring adalah berlangsungnya pembelajaran kolektif (collective learning) yang lahir dari proses diskusi kelompok, diskusi kelas, pemberian umpan balik, dan praktik-praktik kerja bersama. Kelemahan dan kekuatan peserta dipadukan dan menjadi kekayaan bersama. Pembelajaran daring perlu dirancang dengan menekankan pada metode dialog atau berbincang bersama.


Peserta belajar juga menjadikan kelas dan pertemuan belajar sebagai forum yang setara dan saling bekerjasama/kolaborasi. Dialog akan merangsang proses penalaran, berbagi pengetahuan, dan mendorong pemecahan masalah – ini membantu peserta menjadi lebih sadar akan pemikiran dan penalaran mereka sendiri dan membantu mereka untuk menyelidiki pemikiran dan penalaran orang lain.


6. Ketersediaan dan Literasi Teknologi dan Koneksi


Ketersediaan koneksi dan perangkat teknologi memainkan peran penting dalam mendukung pengajaran dan pembelajaran daring. Adanya koneksi dan perangkat teknologi memungkinkan peserta untuk mengumpulkan dan bertukar informasi tentang masalah yang terjadi di berbagai tempat yang berbeda secara cepat. Teknologi juga harus dilihat sebagai sarana mendapatkan umpan balik dan membantu peserta memecahkan masalah yang lebih kompleks. Satu hal, ketika fasilitator memperkenalkan perangkat teknologi dalam proses belajar, mereka harus memodelkan proses pembelajaran untuk peserta; sehingga pada saat yang sama, fasilitator memahami efektivitas perangkat tersebut dalam proses belajar dan melihat bagaimana peserta berpraktik menggunakan teknologi tersebut.



7. Kemandirian Belajar dan Tanggung jawab Pribadi


Pembelajaran daring memberikan ruang seluas-luasnya untuk pembelajaran mandiri. Peserta diharapkan melanjutkan proses belajarnya dalam kelas asinkron melalui bahan bacaan, penugasan, kuis, esai, hingga diskusi dan kolaborasi daring. Dalam pembelajaran daring peserta bertanggung jawab atas keberhasilan proses belajar mereka sendiri – meskipun tidak semua menerima ini dengan mudah, atau tanpa mengeluh. Proses fasilitasi pembelajaran daring yang berhasil membutuhkan kehadiran peserta, baik dalam proses belajar sinkron maupun asinkron.

Comments


bottom of page